Pages - Menu

▼

Sinopsis Novel "Anak Perawan di Sarang Penyamun"


Sinopsis Novel "Anak Perawan di Sarang Penyamun"

Seorang saudagar kaya raya yang bernama Haji Sahak hendak pergi berdagang ke Palembang. Dari Pagar Alam menuju Palembang, Haji Sahak membawa berpuluh-puluh kerbau dan beberapa macam barang dagangan lainnya. Istri dan anak perawannya juga ikut bersamanya.

Di tengah perjalanan, rombongan Haji Sahak dicegat segerombolan perampok yang dipimpin oleh Medasing. Perampok ini sangat kejam. Haji Sahak, istrinya, Nyi Hajjah Andun, serta rombongan
Haji Sahak lainnya dibunuh oleh gerombolan Medasing. Akan tetapi, Sayu, anak perawan Haji Sahak, tidak dibunuh. Dia dibawa ke sarang penyamun pimpinan Medasing.

Suatu hari, Samad, anak buah Medasing yang bertugas sebagai pengintai datang ke sarang penyamun dan meminta bagian hasil perampokan pada Medasing. Selama berada di sarang penyamun itu, dia jatuh hati pada Sayu yang memang sangat cantik. Secara diam-diam, dia berniat membawa Sayu lari dari sarang penyamun tersebut.
Dia pun membisikkan niatnya kepada Sayu secara diam-diam dan berjanji akan mengantarkan Sayu kepada orang tuanya.

Pada awalnya, Sayu terbujuk rayuan dan janji-janji Samad. Dia memutuskan untuk lari bersamanya. Akan tetapi, sebelum niatnya terlaksana, dia menangkap gelagat tidak baik pada diri Samad. Dia mulai ragu dan tidak percaya. Pada hari yang telah mereka sepakati, Sayu dengan tegas menolak ajakan Samad. Walaupun berat hati, dia tetap akan tinggal di sarang penyamun tersebut.

Setelah merampok saudagar Haji Sahak, perampokan kelompok Medasing selalu mengalami kegagalan. Kegagalan tersebut karena Samad selalu membocorkan rahasia perampokan Medasing kepada saudagar-saudagar atau pedagang-pedagang kaya yang hendak dirampok oleh kelompok Medasing. Itulah sebabnya, setiap kali rnereka menyerang para pedagang atau saudagar yang lewat, mereka mendapat perlawanan yang luar biasa.
Para pedagang atau saudagar tersebut telah bersiap menunggu Medasing dan gerombolannya. Akibatnya, banyak anak buah Medasing yang terluka parah dan meninggal. Lama-kelamaan anak buah Medasing hanya tinggal seorang, yaitu Sanip. Betapa hancur hati Medasing menerima kenyataan pahit ini. Kepahitan itupun harus bertambah ketika dalam kenekatannya merampok untuk yang terakhir kali, Sanip, orang yang paling dia sayangi itu, meninggal dunia. Medasing sendiri terluka parah, namun berhasil menyelamatkan diri.

Setelah Sanip meninggal, di sarang penyamun itu hanya tinggal Sayu dan Medasing saja. Sewaktu Medasing terluka parah, Sayu merasa bingung. Di samping itu, persediaan makanan mereka semakin menipis.
Awalnya, Sayu merasa kasihan sekaligus takut kepada Medasing. Antara perasaan hendak menolong dengan perasaan takut pada Medasing berkecamuk dalam hati dan pikirannya. Dia takut kepadanya sebab bagaimanapun, Medasing merupakan seorang pimpinan perampok yang kejam. Medasing sudah beberapa kali membunuh orang, termasuk membunuh kedua orangtuanya. Seluruh anak buah Medasing yang jumlahnya puluhan itu pun, tak seorang pun yang berani melawannya.

Akan tetapi, perasaan takut dan benci itu akhirnya terkalahkan oleh niatnya untuk menolong. Dia memberanikan diri mendekati Medasing. Dengan gemetar, dia mengobati Medasing. Mula-mula mereka berdua tidak banyak bicara. Sayu tidak berani berbicara sebab dia takut pada Medasing, sedangkan Medasing mempunyai karakter yang tidak banyak bicara. Dia hanya bicara tentang hal-hal yang penting saja. Namun lama-kelamaan, mereka berdua semakin akrab.
Berawal dari keakraban itu, Medasing akhirnya menceritakan pengalaman hidupnya. Dari cerita itu, jelaslah bahwa sebelum menjadi penyamun yang sangat ditakuti, Medasing bukanlah keturunan penyamun. Dia merupakan keturunan orang baik-baik.
Dulu Medasing adalah anak seorang saudagar kaya. Ayahnya dirampok oleh segerombolan penjahat. Kedua orang tuanya dibantai dan dibunuh. Karena masih kecil, Medasing tidak dibunuh oleh gerombolan tersebut dan dibawa ke sarang gerombolan. Pimpinan penyamun itu tidak memiliki anak sehingga sangat menyayangi Medasing dan mengangkatnya sebagai anak. Setelah ayah angkatnya meninggal, pucuk pimpinan gerombolan penyamun langsung dipegang oleh Medasing. Jadi, gerombolan perampok yang dipimpinnya adalah gerombolan penyamun warisan dari ayah angkatnya. Dia tak pernah bercita-cita menjadi penyamun, apalagi menjadi seorang pimpinan perampok.

Karena sejak kecil hidup dalam lingkungan perampok, Medasing tidak mengetahui pekerjaan lain selain merampok. Hati Sayu menjadi luluh mendengar penuturan Medasing tentang kisah hidupnya. Rasa benci dan dendam kepada Medasing lama-lama menjadi luluh. Kemudian dengan penuh kesabaran dan penuh kasih sayang, dia merawat Medasing sampai sembuh.

Persediaan makanan dalam hutan sudah habis. Sayu sangat mengkhawatirkan hal itu. Itulah sebabnya, dia mencoba mengajak Medasing keluar dari persembunyian dalam hutan. Karena menyadari kenyataan tersebut, Medasing akhirnya menyetujuinya. Mereka keluar dari huan menuju kota Pagar Alam.

Sesampainya di kota Pagar Alam, mereka langsung menuju rumah Sayu. Alangkah terkejutnya Sayu, ternyata rumah itu bukan milik orangtuanya lagi. Menurut penuturan penghuni baru rumah itu, Nyi Haji Andung tinggal seorang diri di pinggir kampung. Mendengar kabar itu, Sayu dan Medasing langsung menuju rumah Nyi Haji Andun.

Nyi Haji Andun tidak meninggal sewaktu diserang kawanan Medasing. Dia hanya terluka dan berhasil sembuh. Kini dia tinggal sendirian di ujung kampung dalam keadaan sakit keras. Dia sering mengigaukan anaknya yang dibawa perampok. Pada saat Nyi Haji Andun kritis, muncullah di hadapannya Medasing dan Sayu. Betapa bahagianya perasaan Nyi Haji Andun bertemu dengan anak perawan yang sangat dirindukannya itu. Rupanya itulah pertemuan terakhir mereka. Nyi Haji Andun meninggal dunia pada saat itu juga, dia meninggal di hadapan anak yang sangat disayanginya.

Menyaksikan keadaan tersebut, hati Sayu menjadi hancur. Demikian pula halnya dengan Medasing. Kenyataan itu telah menyadarkan dirinya betapa kejamnya dirinya selama ini. Dia merasa menyesal, malu, dan berdosa kepada Sayu dan keluarganya. Akibatnya, karena berbagai perasaan yang berkecamuk di dalam hatinya, Medasing memutuskan meninggalkan Sayu. Sejak itu hidup Medasing berubah total. Dia menjadi seorang hartawan yang sangat penyayang kepada siapapun.

Lima belas tahun kemudian, Medasing dan istrinya berangkat ke tanah suci. Sekembalinya dari tanah suci, orang-orang kampung ramai meyambut mereka.. Suatu ketika ketika Haji karim, nama baru Medasing, setelah kembali dari Mekah sedang duduk-duduk termenung kembali masa lalunya, tiba-tiba pintu rumahnya diketuk. Ternyata orang yang mengetuk pintu itu adalah Samad. Haji Karim masih mengenalinya sebab dia merupakan anak buahnya yang diberi tugas mengintai para saudagar yang hendak dirampok. Haji Karim pun mengajak Samad untuk hidup bersamanya. Waktu itu, Samad memang tinggal di rumah Haji Karim dan istrinya yang tidak lain adalah Sayu. Namun, paginya secara diam-diam Samad meninggalkan rumah Haji Karim dan pergi entah ke mana.
Haji Karim dan Sayu hidup damai dan tentram di kampung itu.

2 komentar: